About ferindra

biographical info ? i can't explain but...

Sukses Ala Islam, Mau ?

Ada sebuah petuah klasik, syarat sukses itu ada dua yaitu berusaha dan berdoa. Usaha yang bagaimana? Doa seperti apa? InsyaALLOH akan dibahas pada kesempatan kali ini.

Dimulai dari usaha, usaha didefinisikan sebagai perkalian antara gaya (F) dan perpindahan (s) yang diakibatkannya (lho?), bingung? Sama!! Hehe :-) . Definisi tersebut bisa diartikan juga sebagai aksi yang kita lakukan sepanjang hidup ini untuk meraih berbagai tujuan. Seseorang yang melakukan suatu usaha pastilah memiliki motivasi tersendiri, dan motivasi timbul karena seseorang telah memiliki tujuan. Jadi, tentukanlah tujuan yang ingin Anda capai. Sebenarnya sejak dari TK kita sudah dididik untuk memiliki tujuan untuk diperjuangkan dengan sungguh sungguh. Sewaktu TK dahulu tentu kita pernah diminta menuliskan atau mengungkapkan cita – cita yang ingin kita capai.
“Anak-anak apa cita-cita kalian?” tanya seorang guru TK.
“Dokter, bu.” jawab salah satu murid dengan semangat, “kalau saya ingin jadi polisi, bu.” sahut murid yang lain.
Meskipun cita-cita dapat berubah seiring berjalannya waktu, namun kita telah mendapat substansi dari ajaran para guru TK tersebut, yakni tentukanlah tujuan (cita-cita), baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, yang ingin diperjuangkan karena tujuan akan memberikan motivasi yang sangat besar demi tercapainya tujuan itu sendiri.

Sebagai manusia yang telah akhil balig tentulah kita dapat memutuskan tujuan apa yang ingin kita capai dan dapat menentukan skala prioritas dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan usaha usaha pencapaian tujuan, contohnya keta menolak ajakan teman untuk menonton film terbaru di bioskop karena tahu kalau besok ada ulangan trigonometri Bu Kartini, dan karena kita ingin belajar supaya dapat nilai yang memuaskan. Skla priorita juga sangat penting untuk mengoptimalkan waktu, sehingga kita dapat bertindak secara efektif dan efisien.

Dari Ibnu Umar RA, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari jangan

Tetap Semangat

“Gimana kabarnya sekarang? Ketrima di universitas mana, bro?” Mata Ikhsan mengerling pada teman di sampingnya.
Furqon mendadak lesu, sorot matanya nyaris kosong. “Belum ketrima, San.. Mungkin bukan takdirnya aku berada di sana…” helaan napasnya terdengar berat. Sesaat Ikhsan menjadi menyesal telah bertanya.

Rasanya, beribu kali kita selalu mengatakan mungkin bukan takdir kita untuk begini/begitu setiap kali kekalahan, kegagalan, dan kekurangan menghampiri kita. Sadarkah, bahwa kesuksesan itu sejatinya diraih lewat perjuangan yang jauh dari yang namanya ‘mudah’? Hem… ekstrem juga kalau kesuksesan harus identik dengan kesulitan. Bukan, bukan begitu. Satu solusi yang sangat tepat adalah me-reframe sudut pandang kita terhadap berbagai hal.

Kalau kita menganggap hidup itu seperti game, barang tentu semua tantangan bukan menjadi beban. Semua tahu kan, bermain game tidak membutuhkan ketegangan, keragu-raguan, bahkan rasa takut untuk kalah. Lucu dong, sewaktu bermain game, nyali kita sudah ciut karena takut kalah. Yang ada, justru kita merasa sangat tertantang dan hanya ada satu kata yang memenuhi benak kepala : menang, menang, dan menang. Entah bagaimana caranya, strategi apa yang digunakan, kita harus mengalahkan lawan, dan jangan lupa dua hal yang wajib dimengerti : jujur dan sportif (hehehe… bermain game membuat kita tidak bisa bermain curang, kan?)

Hidup juga harus begitu. Masalah yang datang silih berganti bukanlah beban yang serta merta harus ditanggung. Coba saja kita menghadapi segala tantangan itu dengan rileks, yakin, tanpa ada rasa takut. Isi kepala kita dengan menang! Pasti kita bakal menjalani semuanya dengan tenang. Dan, layaknya sebuah game, kita tetap butuh strategi yang jitu agak tak terjebak dalam kesalahan yang sama. Ingat, me-reframe adalah kunci kita. Me-reframe berarti mengubah sudut pandang kita terhadap suatu hal. Masalah sulit menjadi santapan yang lezat, ejekan menjadi pengingat, nikmat kan kalau semuanya begitu? Daripada membuang-buang waktu menyesali diri, lebih baik membangun kembali semangat untuk merintis hal baru. Siapa tahu, kita lahir menjadi seseorang hebat yang orang lain tidak pernah menyangka kita akan mencapainya. Dan, ingat game tidaklah terdiri dari satu level saja, tapi berbagai level yang semakin sulit dan semakin menantang kita.
Sayangnya, hidup tak sepenuhnya seperti game, kalau kalah kita bisa mengulangi berkali-kali. Sekali kaki kita menapaki medan perang kehidupan jangan pernah sekalipun menegok ke belakang, apalagi berlari mundur. Tujuan kita hanyalah bisa dan menang, tak peduli kita berjuang hingga bedarah-darah dan bahkan mati. Yang penting, tak ada satu pun langkah mundur. Justru di situlah nikmatnya hidup. Pernahkah terbersit, bagaimana caranya kita bisa berhasil tanpa mengulang? Itulah yang harus kita selelesaikan dan setiap manusia punya cara tersendiri untuk itu.

Kembali, muara atas apa yang yang kita perbuat juga tak lepas dari takdir yang ditentukan oleh-Nya. Kegagalan beruntun seringkali berbuah manis, yang manisnya lebih dari sekadar madu. Hanya Dia yang tahu, mana yang terbaik untuk kita. Eits, tapi jangan pula menganggap semuanya murni dari Dia lho! Allah tidak serta merta memberi jika usaha kita nihil, kawan-kawan. Kalau itu sampai terjadi, keajaiban namanya. Hehehe..

Biarlah diri kita yang menjemput kemenangan. Karena sesungguhnya, ketika kita menghindari suatu kemungkinan buruk di suatu hari, pada saat itulah kita sedang berjalan menuju takdir kita yang lain, menuju realita yang kita citakan dan tentu dalam naungan ridha-Nya… Sebuah pohon alpukat saja perlu ‘dikunjungi’ ratusan ulat bulu yang cantik nan menakutkan, yang menyantap habis daun-daunnya. Tapi, dijamin, setelah melalui siklus itu pohon alpukat akan berbuah saaaaangat lebat.
Yup, jadi, kenapa harus takut? ^_^

IMAN DAN AL- QUR’AN: CAHAYA ALLAH DI HATI ORANG BERIMAN

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan- akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir- hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis- lapis), Allah membimbing kepada cahaya- Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(An Nur : 35)

Cahaya adalah makhluk Allah yang dibutuhkan oleh kehidupan semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Manusia dan semua makhluk hidup tidak akan bertahan hidup tanpa cahaya matahari. Keindahan apapun di dalam kehidupan ini tidak akan terlihat, kecuali setelah tersinari oleh cahaya, dan sebagai manusia, mustahil dapat beraktifitas tanpa cahaya.

Untuk itulah, Allah menekankan pentingnya kalimat cahaya, agar semua petunjuk- petunjuk Allah akan bersinar bagaikan terangnya cahaya yang menerangi ufuk langit dan bumi. Gambaran ayat di atas menerangkan bagaimana cahaya petunjuk Allah menyinari kehidupan manusia, yang menggetarkan segenap perasaan, akal, hati, dan anggota tubuh manusia, agar menyatu dengan seluruh makhluk Allah bersama luapan cahaya Allah.

Dengan cahaya itulah manusia akan dijamin hidup dalam kesucian, terlepas dari beban beratnya kehidupan, mampu tinggal landas manuju kepada kehidupan yang lebih tinggi, yang semuanya dihiasi dengan keindahan ukhuwah, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa.

Ibnu Abbas menjelaskan, “Allah adalah pemberi petunjuk kepada semua makhluk yang ada di langit dan bumi. Allahlah yang mengurus bintang- bintang, matahari, dan bulan.” Ubay bin Ka’ab, “Itulah seorang muknin yang telah Allah jadikan iman dan Al- Qur’an dalam dadanya. Maka, Allah jadikan perumpamaan semisalnya, dengan memulai cahaya diri-Nya, kemudian menyebutkan cahaya orang yang beriman. Maka, maksud ayat di atas, perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang beriman yang telah menjadikan iman dan Al- Qur’an dalam dadanya.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Dan begitulah perumpamaan cahaya-Nya. Kata ganti cahaya- Nya di ayat ini bisa dipahami dengan dua pemahaman, Pertama, kembali kepada Allah, yakni cahaya Allah seperti petunjuk Allah di hati orang yang beriman. Kedua, kembali kepada orang yang beriman sesuai konteks pembicaraan. Jadi, pemahamannya ialah perumpamaan cahaya orang yang beriman di dalam hatinya bagaikan Zujajah (kaca, yang jernih berkilau bagiakan bintang). Sedangkan Al-Qur’an dan syariat diumpakan dengan minyak zaitun, yang aslinya sudah berkilau dengan sendirinya tanpa unsur eksternal.

  1. Cahaya adalah seseuatu yang paling dibutuhkan oleh manusia
    Dan Al- Qur’an itulah sebagai cahaya Allah yang sudah seharusnya menjadi sesuatu yang dibutuhkan manusia, sebagaimana makhluk hidup apa pun akan mati tanpa cahaya. Jadi, manusia pasti akan mati tanpa Al- Quan, sebelum mati secara biologis. Karena tanpa Al- Qur’an akan menciptakan kehidupan yang gelap, menabrak kanan kiri tanpa arah yang jelas.
  2. Dengan cahaya Al- Qur’an, semua tantangan hidup akan teratasi
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah pribadi yang telah membuktikan peran efektif cahaya Allah ini (Al- Qur’an) dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berat, yakni ketika berdakwah di Thaif dilempari batu oleh masyarakat. Saat itu beliau berdoa :
    “Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari dengannya semua kegelapan, dan akan menjadi baik di atas sinar itu seluruh urusan dunia dan akhirat.”
    Dan saat pulang dari Mi’raj, Rasulullah SAW ditanya oleh Aisyah, “Apakah kamu melihat Rabbmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia adalah cahaya, bagaimana aku bisa melihatNya.”
  3. Ayat di atas merupakan perumpamaan yang aksiomatik bagi manusia
    Untuk itulah, Allah jelaskan kepada manusia dengan wahyu- Nya. Namun, Allah Mahatahu manusia manakah yang berhak mendapat cahaya hidayah Allah, dengan yang tidak berhak. Rasulullah SAW memberikan gambaran jenis- jenis manusia yang mendapat hidayah dengan yang tidak,

“Hati manusia itu ada empat jenis: (1) Hati yang bersih bagaikan lampu yang bersinar terang. Inilah hati orang yang beriman yang di balik terangnya terdapat cahaya. (2) Hati yang tertutup terikat kuat oleh penutupnya. Inilah hati orang kafir. (3) Hati yang terbalik yakni hati orang yang munafik yang kondisinya mengetahui kebenaran tapi mengingkarinya. (4) Hati yang terkuak, yaitu hati yang di dalamnya ada sifat iman dan kemunafikan. Dan perumpamaan iman adalah seperti tanaman yang terus tersirami oleh air yang jernih. Sedangkan perumpamaan kemunafikan seperti borok yang terus mengeluarkan darah dan nanah; mana saja dari dua materi itu lebih dominan, maka akan mengalahkan yang tidak dominan.” (HR. Ahmad dengan isnad yang bagus)

(Dikutip dari buku 64 Bekal Hidup Wanita Muslimah, karya Abdul Azis Abdur Ra’uf, halaman 187-195, 2009, Markaz Al- Quran, Jakarta)