Intip yuk ! : Musker KSAI Al Uswah 1432 H

“Jangan harap jika di KSAI kamu akan mendapatkan kesenangan yang kamu inginkan, justru di sanalah kamu akan mendapat banyak tantangan nantinya.”

Yaaakkk…, Musker KSAI Al Uswah 1432 H sudah terlaksana, kawan-kawan!

    Selasa bulan lalu (15/02), dengan segala rahmat-Nya, Musker berhasil dilaksanakan di Kompleks Masjid MSH, Kasihan, Bantul. Bukan basa-basi, Musker memang dilaksanakan sebagai batu loncatan kita semua dalam menjalankan misi dakwah KSAI Al Uswah kita tercinta. Tentu semua perjuangan butuh rencana yang matang agar ketika kita semua on the track, semua berjalan lancarrr.. tanpa hambatan. InsyaAllah. Terlebih lagi, KSAI Al Uswah edisi paling anyar ini, sudah berumur dua bulan, terhitung sejak Desember lalu, ketika mas’ul kita, Isnan Hidayat, terpilih. Wajar kan , jika semuanya butuh pemanasan sebelum berjuang.

    Pada Musker kemarin, mas’ul baru KSAI Al Uswah, Isnan Hidayat, memberikan sambutan yang cukup menggugah semangat peserta Musker. Beliau menyatakan Musker 1432 H ini bertujuan untuk meluruskan visi semua KSAI’ers sesuai dengan yang tercantum pada yakni t ercetaknya da’i yang produktif dan mampu mengemban amanah dakwah, memiliki wawasan keilmuan dalam berbagai bidang, demi mendukung dan mewujudkan percepatan cita-cita dakwah. Dalam sesi yang sama beliau juga menegaskan bahwa KSAI Al Uswah merupakan lembaga yang berasaskan Islam , b ersifat keilmuan dan amaliyah Islam, mandiri, serta independe n, serta bertujuan mengembangkan keilmuan, keimanan, dan amaliyah Islam alumni dan pelajar SMAN 1 Yogyakarta.

    Kakak-kakak KSAI Al Uswah, dalam hal ini berperan penting dalam perkembangan adik-adiknya di SMAN 1 sebagai Fasilitator, Motivator, Stimulator, dan Katalisator. Keempat elemen itu pula yang menjadi parameter keberhasilan perjalanan dakwah para pejuang KSAI.

    Tak lupa, beliau juga menekankan bahwa KSAI Al Uswah memiliki tiga pilar penting yang tertuang dalam tiga departemen, Departemen KPPP (Kaderisasi dan Pengembangan Potensi Pelajar), Departemen KPU (Komunikasi dan Pemeberdayaan Umat), dan Departemen KPPI (Kaderisasi dan Pengembangan Potensi Internal). Ketiganya inilah yang kelak akan mewujudkan visi KSAI Al Uswah yang mulia. Wow… komplit ya?

Nah, namanya juga musyawarah kerja, tak lengkap rasanya jika kita tidak tahu apa saja yang diencanakan para personil KSAI edisi terbaru ini selama setahun ke depan. Kita intip program kerja mereka, yuk!

Program Kerja KSAI Al Uswah 1432 H

1. Departemen KPPP (Kaderisasi dan Pengembangan Potensi Pelajar)

a) Tim Pembinaan

  • Pembukaan Mentoring with Tere Liye
  • SG2 nonbar dan lotisan
  • Penutupan mentoring
  • Festival Mentoring, dll.

b) Tim PO KSAI (Pengembangan Organisasi KSAI)

Program kerja PO KSAI secara garis besar terdiri dari 4 macam :

  • TRIPOT (Training Panti Program Oemoem Teladan)
  • TRESNO (Training dan Pembekalan Sie Otonom)
  • TRISULA (Training Pansus lan Pendampingan)
  • PIPO (Program Insidental PO )

c) Tim Cemara

Program Tim Cemara terbagi mejadi tiga program, yakni program pokok, program internal, dan program insidental.

Program pokok :

  • Outbound GVT
  • Training for Trainers
  • Penawaran Proposal

Program internal :

  • Syuro’ setiap Minggu

Program insidental :

  • Pembuatan artikel
  • Web Cemara
  • Inventarisasi Cemara
  • Training non-Teladan
  • Training for Trainers
  • Training Amal

d) Tim Pendampingan Akademik

Program kerja PA pada umumnyaa terdiri atas empat macam, yaitu

  • WBPA (Website/Blog PA KSAI)
  • POSPIT (Pembinaan Olimpiade Sains dan Penelitian)
  • KMP (Konsultasi Mata Pelajaran)
  • TGC (Teladan Going to Campus)

2. Departemen KPU (Komunikasi dan Pemeberdayaan Umat)

a) Zidan (Zakat, Infaq, Shodaqoh, Dana Usaha)

  • Beasiswa dan Anak Asuh
  • Infaq Mandiri
  • Buletin ZIS
  • Zakat Profesi
  • KSAI Big Business
  • Workshop Entrepreneurship
  • Kerjasama dengan Koperasi Siswa

b) Kominfo (Komunikasi dan Informasi)

  • KSAI Movement
  • Buletin Cozy
  • Website KSAI
  • Atribut / Identitas KSAI
  • Desain Visual
  • Profil KSAI
  • SMS Center

3. Departemen KPPI (Kaderisasi dan Pengembangan Potensi Internal)

Sebagai satu-satunya departemen yang tidak memiliki tim, KPPI membagi beberapa program kerjanya menjadi tiga bagian secara garis besar antara lain, Program Pokok, Program Rutin, dan Program Insidental.

Program Pokok :

  • Curhat Langsung (via SMS, telepon, e-mail, surat , message FB, atau curhat langsung)
  • Database KSAI’ers
  • Assesment, untuk mengetahui perkembangan tiap tim.
  • Upgrading
  • KSAI Gathering

Program Rutin :

  • KanTin (Kajian Rutin)
  • Tahsin Club
  • Cooking Club
  • Sport Club
  • SMS Tausiyah

Program Insidental :

  • INTEL Award
  • Upgrading Team

Ternyata banyak sekali program kerjanya, kawan!

    Semua tentu berharap proker-proker ini tidak hanya sekedar menjadi bunga yang masih berbentuk kuncup yang tak segera mekar, apalagi justru patah tangkainya. Kita semua ingin proker-proker yang kita rencanakan kemarin lekas mekar menjadi bunga yang harumnya tercium sampai ke seluruh penjuru, rupanya menawan hati, dan mengundang lebah-lebah untuk berdatangan menjalin ukhuwah dengan si bunga. Indah, bukan?

Tak lupa, ada pesan yang dalam dari mas’ul kita sebelum Musker berakhir.

“Jangan harap jika di KSAI kamu akan mendapatkan kesenangan yang kamu inginkan, justru di sanalah kamu akan mendapat banyak tantangan nantinya.”

Ma’an najah, semuanya!

*snapshot :

Mas'ul

MC

Batik, Teman atau Sahabat ?

Masa remaja merupakan masa yang dinilai memiliki pengaruh penting bagi perkembangan jiwa seorang individu. Tinggal mengatur bagaimana caranya memanfaatkan momen yang terindah itu dengan pelajaran yang bermanfaat.
Remaja, sebagaimana diceritakan oleh pendahulu kita, merupakan masa penting dalam hal penanaman kepemilikan akan budaya lokal, yang imbasnya mengarah ke masalah pelestarian budaya.
Sebagai warga Yogyakarta, tentulah kita tidak asing dengan batik. Batik termasuk dalam rentetan daftar kebudayaan yang dipunyai oleh leluhur Jawa. Corak batik dapat ditemui dalam bentuk jarik, lendhang, dan bermacam jenis lainnya. Pemasarannya pun, dewasa ini, nampaknya sudah mulai menembus pasar global dengan nilai jual yang tinggi.
Mendunianya batik di kalangan budaya internasional memang sangat mengharukan. Namun, apakah itu semua diimbangi dengan peran aktif warga dalam hal pelestarian batik? Sudah dikatakan bahwa remaja juga mempunyai peran penting di titik ini. Nah, seberapa jauhkah peran remaja dalam hal ini?
Akhir-akhir ini, para remaja kerapkali menggunakan batik dalam hal berpakaian maupun berbagai aksesoris yang lain. Apalagi, selepas Malaysia mematenkan batik sebagai produk resmi mereka. Banyak remaja Indonesia yang menentang insiden tersebut, lalu menuliskan pendapat mereka di media remaja maupun internet. Sayangnya, pada saat menuliskannya tidak diimbangi dengan perlakuan untuk lebih menghargai batik. Kalau merasa memiliki mengapa sering malu untuk memakainya? Batik yang semula belum terlalu tren dan kadang dianggap kuno, mendadak meroket, menghiasi berbagai desain busana. Jadi, bisa dikatakan, berkat peristiwa itulah warga, terutama remaja menjadi sadar bagaimana seharusnya batik itu diperlakukan. Mungkin saja, hal ini pulalah yang menginspirasi lahirnya Perwal No.24 Tahun 2008, mengenai kewajiban setiap siswa Kota Yogykarta untuk mengenakan baju batik setiap hari Jum’at. Aturan ini juga bisa memicu para siswa untuk tidak malu saat memakai batik. Semoga saja penampilan yang baru ini mampu memberikan kontribusi positif bagi para remaja Yogyakarta dalam melstarikan batik.
Di sisi lain, pemasyarakatan batik di kalangan remaja tidak harus dilakukan dengan transparan, yakni dengan mengenalkan produk asli batik secara langsung, seperti jarik, selendang, kebaya, blangkon, dan lain-lainnya. Terkadang proses seperti ini memang membutuhkan jalan pintas, dengan cara memadukannya ke dalam aksesoris remaja tanpa meninggalkan keaslian. Maka, tidak heran jika banyak dijumpai benda semacam tas, sampul, dan beberapa desain dengan corak batik.

Potensi Batik Jogja

Potensi Batik Jogja

Bagi remaja yang memakai corak batik dalam berbagai bentuk dengan tujuan melestarikan batik, tentunya takkan menimbulkan masalah. Justru itulah jalan untuk mempererat hubungan antara remaja dengan batik. Yang menjadi masalah, jika para remaja menggunakan batik sekedar untuk ‘nampang’ tanpa memedulikan hakikat batik yang sebenarnya. Tanpa tahu kalau batik dapat tercipta dari proses pembuatan –yang sesungguhnya—rumit, mulai dari nglowong hingga nglorot yang tentu saja memakan waktu lama. Saking rumitnya, tidak banyak daerah di Yogyakarta yang mampu memproduksi batik secara kontinyu. Sebagai akibatnya, harga batik tulis melambung tinggi. Dalam rangka memperbesar peluang untuk membeli batik, lahirlah batik cap yang pembuatannya lebih praktis dan tentu saja tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Batik yang seperti itulah yang kerap ditemui di kalangan remaja, bukan jenis batik tradisional pada zaman dahulu.
Untuk mengantisipasinya, ada baiknya jika setiap sekolah mempunyai peralatan batik secara lengkap sehingga apabila ada beberapa siswanya yang ingin merasakan proses membatik dapat mempraktikannya. Bahkan, bukan hal yang mustahil jika ada pelajaran khusus membatik. Bayangkan saja jika banyak remaja yang tertarik dengan membatik dan setengah diantaranya mau menekuninya. Hal positif yang satu ini mampu menghasilkan uang sebagai pokok pencaharian maupun tambahan. Hubungan antara remaja dengan batik pun menjadi semakin dekat.
Pada dasarnya, bagaimana hubungan antara batik dengan para remaja? Teman atau sahabat? Tak ada jawaban yang pasti sebab semuanya tergantung pada masing-masing individu dalam memaknai batik. Maka, beruntunglah remaja yang menganggap batik sebagai sahabat mereka. Selain memperindah penampilan, semangat untuk melestarikan budaya sendiri itu mampu meningkatkan rasa cinta pada warisan leluhur yang tak ternilai harganya.