
cover buku tahunan
Nagari, sebuah kota teramat megahnya. Dipimpin kekaisaran Rah Man Kho yang amat bijaksana. Rakyatnya sejahtera, hormat tanpa kepatuhan buta pada pemimpin dan wakil mereka di Dewan Kota. Sebuah kota dengan begitu banyak kebaikan, eksotika kekeluargaan, dan keramahan bernama perdamaian. Setiap jengkal dari kota ini adalah kebahagian bernama rasa syukur. Setiap sudutnya ramah mengucapkan salam perdamaian. Sebuah kota yang mampu mengharmonikan berjuta perbedaan tanpa perlu meleburkannya menjadi satu persamaan. Luar biasa.
Maka tak heran jika dalam sebuah sekolah dapat ditemui seorang putri Mayor Kota dan seorang jagoan pasar tengah keukuh mengajak seorang pengelana cilik yang pendiam untuk bercerita. Bercerita tentang perjalanannya, bercerita tentang hidupnya. Yang satu membujuk-bujuk dengan lembutnya, yang satunya lagi tampak kesal dan marah-marah dengan bahasa teramat anehnya, sisanya hanya menunduk diam. Lucu sekali melihat tingkah ketiganya.
“ayolah, cerita. Kau pasti sudah mengunjungi banyak tempat kan?ayo lah, sebentar saja.”
Si pengelana hanya diam. Anak perempuan itu tak menyerah, terus membujuk, terus berusaha mengajak si pengelana bicara. Temannya hanya memandang saja, bete.
“tch. Oi, kau bisa bicara atau tidak??” tanya pemuda kekar itu, ketus, aksen pasarnya keluar.
“hush, Kosha. Jangan kasar gitu!”
“tapi Tanya, anak ini bahkan belum bicara sejak memasuki gerbang kota. Bahkan menyebutkan namanya saja tidak. Siapa tahu dia bisu betulan kan?”
Tanya hanya melambaikan tangan, menyuruh Kosha diam, hendak melanjutkan kegiatannya tadi.
“nama..” belum usai Tanya bicara, dari luar terdengar tiga kali sudah lonceng sekolah dibunyikan. Waktunya pulang. Tanya mendengus kecewa.
Si pengelana diam saja. Berdiri, kemudian beranjak mengemasi barang-barangnya. Buku catatan yang sedari tadi dipegangnya ia masukkan begitu saja. Begitupun semua pensil dan alat tulis lainnya. Semua masuk ke dalam tas hitam bututnya. Tanpa bicara ia melangkah pergi. Meninggalkan Tanya dan Kosha termanggu memandangi punggungnya.
Kosha hampir-hampir menimpuk anak berbadan kurus itu dengan sepatunya kalau saja Tanya tidak melotot melarangnya. Mengesalkan sekali sikap anak baru itu batinnya keki.
Esok pun datang begitu saja. Tanya masih begitu semangat mengajak anak itu bicara bahkan membacakan cerita-cerita, buku-buku, menanyakan pendapatnya, mengajaknya bermain balok-balok kayu, menyanyikan lagu, apa saja. Menanyainya apakah pernah mengunjungi tempat ini, tempat itu. Apakah ada tempat seperti ini, seperti itu. Begitu terus setiap hari.
Kosha pun tak kalah semangatnya, semangat berusaha menyeret Tanya pergi. Berusaha menyadarkan Tanya bahwa usahanya sia-sia. Berusaha membuatnya mengerti bahwa anak yang diajaknya bicara itu punya kelainan. Sesekali ia mengarang-ngarang cerita, sekedar untuk menarik perhatian Tanya atau membuat anak itu bicara tanpa sengaja. Begitu terus setiap hari.
Tapi anak baru itu masih juga keukuh diam. Ngotot untuk tetap membisu. Bertahan untuk tetap mengunci mulutnya. Setiap hari ia ke sekolah, duduk di kursinya, diam terus selama pelajaran, tetap diam meski ditanyai guru. Jika waktu istirahat datang, ia memilih tetap mendakam di tempat duduknya di pojokan kelas. Menunduk di sana hingga pelajaran dimulai lagi atau sekolah telah usai. Begitu terus setiap hari.
Tanya begitu keras kepala, begitu pun anak baru itu. Satu ngotot mengajak bicara, yang satunya bersikeras untuk diam. Akhirnya hanya Kosha yang pasrah, mengalah, memilih duduk saja menonton Tanya terus berusaha, sesekali ia nyletuk ringan, berkomentar sarkartis, mengejek, mencemooh, berharap anak baru itu cukup marah untuk berteriak. Setidaknya ia bicara, begitu alasannya setiap kali Tanya melotot menyuruhnya berhenti mengejek anak baru itu. Semua itu berlangsung berhari-hari, terus seperti itu. Tanya tak menyerah, anak baru itu tak mau kalah, Kosha pasrah. Begitu terus.
Hari itu, hari teramat istimewa bagi Tanya. Hari ulang tahunnya yang ke-10 . Hari pertama musim semi, amat istimewa. Tanya selalu suka hari itu. Tanya selalu percaya bahwa ia lahir bersamaan dengan mekarnya setiap bunga di Padang Bunga Perdamaian, sebuah taman bunga yang teramat indah di pinggir kota dekat dengan Hutan Kabut. Tanya selalu percaya cerita almarhumah neneknya bahwa dunia menjadi lebih cerah dengan kelahirannya, langit terlihat lebih biru, udara terasa lebih segar, semerbak bunga di mana-mana, keceriaan bermekaran di sana-sini, kota menjadi lebih semarak karenanya, itulah makna hari kelahiran bagi Tanya. Dan dia pun selalu menceritakan cerita neneknya itu pada siapa saja, setiap ada kesempatan, setiap ada orang baru yang ditemuinya, selalu begitu setiap tahunnya.
Anak baru itu pun tak luput dari cerita keramat Tanya itu. Begitu semangatnya Tanya bercerita, tak perduli didengarkan atau tidak, tak perduli sama sekali yang diajaknya bicara hanya menunduk saja. Tania begitu bersemangat menceritakan cerita almarhumah neneknya, begitu senang dengan setiap hal di hari ini. Ia memuji habis-habisan baju baru temannya, bilang betapa lezatnya susu sapi waktu sarapannya tadi pagi, cerita betapa hebatnya tukang kebun sekolah membersihkan sisa-sisa salju, ular pohon yang sempat membuat keributan tadi ia bilang keren, bu guru kedisiplinan yang galak dan bertampang judes ia beri bunga Froslili (bunga eksotis khas musim dingin di kota ini), muka Kosha yang belepotan kuah daging waktu makan siang ia sebut tampan, Kosha hanya menepuk dahinya mendengar cerita Tanya itu. Dan masih dengan wajah bahagia seperti biasanya, ia memberi anak baru itu sepucuk surat. Surat undangan ke pestanya di Padang Bunga Perdamaian. Dewan kota telah setuju,bukan karena ini ulang tahun ke-10 putri Raja mereka, lebih karena setiap penduduk kota ini sendiri yang meminta hal yang sama. Mengadakan acara khusus dalam Festival Musim Semi tahun ini. Sebuah pesta di padang bunga untuk seorang anak perempuan yang amat dicintai dan mencintai setiap penduduk kota mereka.
“datanglah, tidak, kau harus datang, setiap penduduk kota ini harus datang ke Padang Bunga Perdamaian nanti sore. Atau aku akan menyeret mu ke sana.”
Tanya memaksa anak baru itu menerima undangannya. Anak baru itu bersitatap dengan Kosha, yang ditatap cuma nyengir melihat Tanya bisa galak untuk urusan satu ini.
Anak itu memandangi undangan di tangannya. Tampak kaget demi disadarinya ada nama di kertas undangan itu.
“oh ya, karena kau tak mau bilang siapa nama mu, maka aku membuatkan nama untuk mu. Mulai saat ini, sampai kau mau mengatakan namamu, kau akan aku panggil Shuienta, hutan yang tenang.”
riang sekali Tanya mengabarkan hal itu. Bergegas ia berlari pulang sambil berteriak bahwa di pesta nanti semua akan diberitahu perihal nama si anak baru itu.
Anak itu terpaku. Melongo memandangi kertas warna-warni di tangannya. memandangi nama yang diberikan putri kota ini untuknya. Kosha terkekeh mendapati ekspresi heran sekaligus takjub di wajah anak baru itu. Ditepuknya pundak anak baru itu ramah
“heran? Dia memang seperti itu. Tak perduli sebanyak apa pun ornag di sini, anak itu selalu bisa mengenal setiap orang di kota ini. Selalu hafal nama-nama mereka, hari ulang tahunnya, apa pun yang pernah ia tanya kan pada mereka. Itu lah putri kota ini.” Kosha beranjak pergi, berhenti sejenak di ambang pintu, berbalik menghadap ke anak baru itu.
“tak usah terpaku begitu, segeralah pulang dan mandi. Tuan putri satu itu serius sekali tentang ancamannya tadi, dia betulan akan menyeret mu datang ke pestanya kalu kau nekat tidak datang. Aku duluan ya, senang bisa mengenal mu, eh Shuienta? Ha3x” Kosha beranjak pergi meninggalkan Shuienta yang masih termanggu.
bersambung….