Be A Wise Da’i
Dakwah itu proses, bukan hasil. Dakwah adalah proses yang kita jalani seumur hidup. Subjek dakwah itu semua muslim dan objeknya adalah semua manusia, muslim maupun bukan. Sasaran dakwah adalah hati. Da’i bukanlah qadhi. Tugas kita hanyalah menerangkan dan mengajak, bukan menghakimi dan menghukumi. Namun setiap da’i adalah juga mad’u. Belajar dan mengajarkan.
Dalam berdakwah, jangan melihat pada hasilnya, namun pada prosesnya. Hidayah itu hak Allah. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan dan mendoakan. Jangan sekali-kali terpaku pada angka-angka yang tertera pada target-target dakwah kita. Jadikan ia penyemangat namun jangan jadikan ia patokan keberhasilan.
Jangan berbangga dengan banyaknya muslimah yang memakai jilbab di kelasmu. Tanyalah pada hati-hati mereka, apakah hijab itu melindungi hatinya. Jangan berbangga dengan banyaknya adik mentormu. Tanyakan pada hati mereka, karena apakah mereka mengaji.
Jangan berbangga dengan penguasaanmu atas manusia, di sie otonom, di OSIS, di BEM. Tanyakan, tanyakan kepada mereka, apakah kekuasaanmu itu menjadikan hati mereka ridha ataukah menjadikan mereka sesak.
Jangan sekali-kali terpaku pada target kondisi yang kita inginkan. Jadikan ia harapan bagi semua orang.
Jangan berbangga pada hijab yang kau pasang di masjid-masjid, di ruang-ruang rapat, di waktu kajian-kajian. Sementara, manusia menjauhimu karenanya, menjauhi masjid karenanya, dan menjauhi seruan-seruan Allah karenanya.
Jangan berbangga pada aturan-aturan yang kau teken. Sementara manusia semakin takut padamu, dan membenci aturan-aturan Allah karena pemaksaanmu.
Jangan hanya karena saudaramu seiman melanggar apa yang masih menjadi perdebatan ulama kau melanggar haknya untuk mendapatkan kelembutanmu.
Jangan karena semangat kita yang menggebu menjadikan kita lupa bahwa Rosulullah saw pun membutuhkan 13 tahun di Mekkah untuk menempa akidah dan 11 tahun di Madinah untuk menyempurnakan Islam.
Apakah kau ingin semua diselesaikan dalam 3 tahun?! Apakah Rosulullah saw yang menguasai Cordova dan Bukhara?
Apakah di waktu Rosulullah saw gesang manusia menemukan seorang perempuan berhaji tanpa mahram, sedang tidak ada yang ditakutinya selain Allah dan binatang buas?
Jika bukan hari ini, mungkin esok ia akan mengerti.
Bagaimana mungkin kita menetapkan kekafiran seseorang sedangkan kita masih terlampau bodoh untuk bisa menerangkan kebenaran. Bagaimana mungkin kita menetapkan seseorang itu buta jika kita bersama berjalan dalam gelap dan tak secercah pijar pun kita punya. Jangan merasa terang dengan sebatang bara yang temaram. Bagaimana mungkin kita menetapkan seseorang itu tuli jika kita masih bicara dalam bahasa yang berbeda.
Jika yang kita miliki lilin, sulutlah. Jika kita punya dian, nyalakanlah. Jika kita punya genset, turn it on n let the light glittering. Anai-anai akan datang dengan sendirinya tanpa perlu kau giring mereka.
Jadilah sumber cahaya yang berpijar bahkan sebelum api menyulutnya. Sebagaimana minyak zaitun yang gilap. Jadilah mesin dakwah, setidaknya, jadilah roda yang melancarkannya. Jadilah poros yang memutar gerak dakwah, seidaknya, jadilah planet-planet yang setia dan selalu memendarkan cahaya dan menjadi petunjuk bagi pengelana malam.
Jika bukan hari ini, mungkin esok kau akan mendapatkan jawaban.
Jika halaqoh sudah udzur, jangan pernah mundur. Rendra bilang ada 1000 jalan menuju Roma. Mengapa kita menyempitkan diri hanya dan hanya dengan satu cara. Jalan lurus yang Rosulullah saw ini gambarkan adalah jalan yang membentang lebar. Kau boleh naik Vios, Avansa, bahkan Satria F-150 double cakram pun boleh.
Jika mereka bilang kebenaran hanya satu, tak pada semua hal berlaku. Karena penyelesaian persamaan berderajat n adalah sebanyak n itu sendiri. Be wise. Be wise…
Rois Ibnu Abdul Hakim <averois@…>



