Dakwah dan Loyalitas Khusus
Tak ada yang tak terikat dalam hidup ini. Air terikat dengan anatomi H2O-nya. Matahari, bumi, dan bulan terpaku pada lintasan orbitnya. Binatang terbelenggu dengan habitatnya. Meski, ada monyet yang pandai berjoget, beruang menggenjot sepeda, lumba-lumba pintar menghitung,singa menerobos lingkaran api, gajah bermain bola, tapi toh mereka binatang yang tak kan berubah jadi manusia. Semua terikat dengan berbagai status dirinya itu.Keterikatan dengan status itulah dasar loyalitas kepada apa atau siapa saja. Bila loyalitas ini rusak, rusak pula semuanya. Sekali harimau mendekam di kebun binatang, ia tak akan selincah kala masih di hutan. Begitu juga manusia, begitu unsur loyalitasnya tumpul, mata buta, hati mati, telinga tuli, “Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (Al A’raf : 179). Lalu, apa bentuk loyalitas seorang muslim yang harus digenggam erat? Ada dua loyalitas utama yang mengikat seorang muslim. Jika loyalitasnya kacau, akan binasalah dirinya. Lebih-lebih seorang da’I, ulama atau tokoh umat. Bila loyalitasnya hancur, hancur pula umat semua. Ada pepatah mengatakan, “Tergelincirnya ulama, adalah tergelincirnya dunia” (zallatul ‘alim zallatul ‘alam).
Dua loyalitas itu , pertama, loyalitas kepada syari’at Islam (iltizam syar’I). Di sini seorang muslim diukur sejauh mana loyalitasnya kepada hukum Islam. Batasan yang digunakan meliputi lima hukum Islam : wajib, sunnah, makruh, halal, dan haram. Dengan hukum ini seorang muslim diikat. Saat dia berdagang, berdiam di rumah, bertetangga, bertamu, mengajar, mengelola perusahaan, menjadi pejabat, semuanya harus dijalakan sesuai rambu-rambu syari’at. Tidak boleh menghalalja yang haram dan mengharamkan yang halal.
Loyalitas dalam bidang ini, tak terbatas pada apa-apa yang harus terekspresikan secara lahiriyah semata. Namun, ia juga berbicara soal bathin dan hati yang tersembunyi. Karenanya riya’ yang tersembunyi amat ditakutkan Rasulullah pada ummatnya. Sebab ia wujud unloyality bathin kepada syariat. Sebagaimana Al Qur’an juga menegaskan, tidak hanya kejahatan ajktual yang dilarang, “Katakanlah : Seseungguhnya Rabb-ku mengaharamkan kekejian yang nampak maupun yang tersembunyi.” (Q.S. Al A’raf:33)
Loyalitas syari’at membutuhkan daya dukung loyalitas komunitas (iltizam jama’I). Secara jelas , kebutuhan akan loyalitas syari’at dan loyalitas komunitas dapat kita fahami dalam firman Allah, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dn janganlah kamu bercerai-berai.” (Q.S. Ali Imron : 102-103)
Ayat tersebut berbicara tentang dua masalah utama. Loyalitas syar’I-yaitu menjadi orang bertakwa dan berpegang teguh kepada tali Allah-membutuhkan daya dukung loyalitas komunitas (dan janganlah kamu bercerai berai). Seacra kultur, orang sulit menjadi baik atau bertahan dalam kebaikan bila ia secara gegabah berani hidup sebatang kara. Apalagi, tak mungkin seorang muslim dengan egois ingin baik sendiri dan masuk surga sendiri. Ketahanan diri seorang muslim memerlukan partner untuk saling menasehati.
Siapa saja komunitas yang layak diberika kepadanya loyalitas seorang muslim ? Loyalitas kepada sesama muslim, menduduki peringkat pertama. Sebut saja loyalitas kemusliman. Loyalitas kemusliman, akan banyak berdimensi sosial dan moral. Seperti dalam soal muamalah, bisnis, infak, kerjasama, dan semisalnya. Karenanya, dalam bahasa Rasulullah, “Orang muslim itu adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari Muslim) . Dalam konteks sosial seorang muslim harus menjadi rahmat bag orang lain. Melalui lidah dan tangan itulagh seorang muslim mengekspreikan jati dirinya.
Dalam hadits-hadits lain juga bisa ditemukan tentang keharusan seorang muslim membangun loyalitas kemusliman. Dengan cara memenuhi hak-hak sesama muslim, dan mendahulukan mereka dalam urusan-urusan moral dan sosial. Seperti disabdakan Rasulullah, “Hak seorang muslim atas muslim ada enam. Mengucapkan salam bila bertemu, menjenguk bila sakit, menasehati bila dimintai nasehat, menghadiri undangannya, mendoakannya saat bersin, dan mengikuti jenazahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Di atas loyalitas kemusliman, ada loyalitas untuk komunitas orang-orang beriman, Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, yang artinya, “Dan orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan adalah sesama mereka itu adalah saling memberi loyalitas.” (Q.S. At Taubah : 71). Kedudukan loyalitas ini lebih tinggi, karena keimanan memang lebih tinggi dari keislaman, meskipun keduanya saling beririsan. Makanya, di zaman Rasulullah, orang-orang Badui yang merasa telah beriman, padahal baru masuk Islam ditegur langsung oleh Allah. Orang-orang Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah Islam (tunduk).’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Q.S. Al Hujurat : 14).
Loyalitas ini, sebut saja loyalitas kemukminan. Yaitu loyalitas yang diberikan seorang mukmin kepada mukmin lainnya. Dimensinya tidak saja pada aspek sosial dan moral, tapi juga soal politik dan ideologi. Banyak ditemukan hadits-hadits yang berbicara dalam konteks loyalitas kemukminan dan dimensinya sosial serta moral. Mislanya, sabda Rasulullah, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.”Atau sabdanya yang lain, ” Demi Allah, dia tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Orang yang tetangganya tidak aman dari ulahnya.” (Muttafaq ‘alaih).
Namun, loyalitas kemukminan yang berdimensi sosial moral ini tekanannya pun lebih kuat. Seperti sabda Rasulullah, “Perumpamaan orang-orang mukmin yang saling mencintai, mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota yang sakit seluruh anggota tubuh akan ikut terjaga don merasakon demam.”(Muttafaq ‘alaihi).
Adapun loyalitas kemukminan dalam bidang ideologi dan politik, sangat tegas bisa dilihat dalam firman Allah, “Hai orang?orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang?orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu.” (QS. AI?Ma’idah: 51 ). “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul?Nya dan orang?orang mukmin, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah. “ (QS. AI?Ma’ idah: 55).
Atau seperti firman Allah, “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yong beriman kepada Allah dan hari akhirat,saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul?Nya, sekalipun orang itu bapak?bapak, atau anak?anak atau saudara?saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al?Mujadilah: 22).
Nabiyullah Ibrahim adalah sosok agung yang loyalitas kemukminannya diabadikan dalam Al?Quran, ketika ia berlepas diri dari kemusyrikan ayah dan kaumnya. Sebab, kepada orang kafir, hanya bisa diberikan loyalitas kemanusiaan. Itu pun harus dalam bingkai untuk menda’wahi mereka. Secara manusiawi mereka tetap harus diberikan hak?hak kemanusiaannya. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yong tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu, Sesungguhnya Allah menyukai orang?orang yang berlaku adil.” (QS. Al?Mumtahanah: 8).



