Kelompok Studi dan Amaliyah Islam, KSAI Al Uswah yang berdiri sejak tahun 1991, selalu dinamis dengan konsep dakwah sekolah. “Manis pahitnya dakwah” pernah kita rasakan. Kita pernah mengalami titik nadir, dimana dakwah terkotak-kotak dan terluka oleh aktivisnya sendiri. Sebaliknya, kita juga sering mengalami masa-masa indah dakwah, dimana kesinergisan dakwah mampu mendobrak sekat-sekat dan hambatan yang ada. Gebrakan dakwah inilah yang harusnya banyak kita lakukan seiring dan mengikuti alur dakwah yang semestinya kita jadikan pedoman.
Sungguh sebuah kegembiraan dan nilai positif bagi dakwah itu sendiri bila aktivis-aktivis dakwah senantiasa melakukan evaluasi (muhasabah) diri, dengan senantiasa menjaga makna dan semangat Allah berikut ini:
“……dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)….” (QS. Al Hasyr:18)
Abu Bakar Siddiq di hadapan pasukannya berkata, “Kalian tak akan meraih kemenangan dengan hanya mengandalkan kekuatan senjata dan bekal materi saja. Seandainya musuh punya persenjataan dan bekal materi yang sama dan kalian melalaikan faktor keimanan dan persatuan, maka kalian pasti akan kalah”.
KSAI Al Uswah Era Baru adalah segala upaya kita untuk lebih mengefektifkan dakwah, khususnya di ranah dakwah sekolah Jogja. Semua elemen dakwah harus berpartisipasi aktif, mulai dari pelajar sebagai pelaku utama, guru sebagai pihak sekolah yang mengayomi, dan juga alumni sebagai pewaris sistem dan pelaku pembinaan yang terus menerus.
Berbagai hal yang dibutuhkan untuk mewujudkan itu (KSAI Al Uswah Era baru), yaitu:
1. MILITANSI, Nilai Diri Prajurit Allah
Kemampuan bertahan dalam konteks lingkungan dakwah yang lemah membutuhkan sebuah isyarat sederhana; yaitu Militansi! Sikap teguh terhadap keyakinan dan kesiapan berkorban unutk menunaikannya.
Saatnya kita menjawab tantangan zaman. Akankah bermuara kesuksesan dan dihimpun dalam barisan generasi perkasa sebelumnya, ataukah kita tersisih dari garis tersebut dan berada di garis sejarah yang lain.
2. Sibuk dengan gagasan besar
Orang-orang “besar” adalah ia yang disibukkan dengan gagasan besar kemudian mengaplikasikannya, ia tidak membuang waktunya untuk menyalahkan sistem, orang lain dan segala hal, walaupun ia bisa dan berhak melakukan kritik itu.
3. Menggunakan momen-momen yang terjadi sebagai titik tolak
Beberapa peristiwa yang terjadi seharusnya bisa kita ambil ibrohnya. Namun, sebagaimana pesan Ust. Cahyadi Takariawan, kita tidak boleh responsif. Tidak boleh mengikuti kebutuhan sesaat dan melupakan alur dakwah yang seharusnya kita bangun dan aplikasikan. Sebagaimana Rasulullah memberi banyak pengetahuan, tapi pemantapan aqidah sebagai pokok agama terus dilakukan.
4. Penyiapan Kader
Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang memiliki mentalitas kuat dan hasrat yang membara. Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauhmana kemampuan “rahim”nya melahirkan tokoh-tokoh yang memenuhi syarat sebagai pelopor.
Pun juga dengan KSAI Al Uswah, kesiapan pelajar, dalam hal ini sebagai pelopor dakwah sekolah harus mulai ditumbuhkan. Alumni harus menjalankan peran-peran lain yang selama ini strategis, tapi belum optimal
5. Adanya Standart Kerja Dakwah
Ust. Hasan Al-Banna dalam “Meretas Jalan Kebangkitan Islam” menetapkan beberapa standart kerka dakwah yang harus diwujudkan dengan generalisasi seruan, jaringan yang luas dan pembinaan yang kukuh
KSAI Al Uswah Era Baru bukan sekadar jargon belaka. Berbagai produknya harus kita rasakan langsung di lapangan. Pengelolaan Mentoring Al Uswah yang lebih banyak melibatkan pelajar sebagai follow up dari SAA dan GVT, peran advokasi pelajar yang optimal dari, untuk dan oleh pelajar sendiri merupakan beberapa indikatornya. Peran alumni yang terdistribusi jelas juga menjadi indikator utama di level atas.
Wallahu A`lam Bish-shawab,
Zainuri Hanif (2003) – Ketua KSAI Al Uswah 2004-2005