KSAI Al Uswah, Saat-saat Sulit
Sebuah Perjalanan Sejarah
Melihat perkembangan KSAI Al Uswah, tidak ada yang menyangka bahwa sebelumnya KSAI Al Uswah, sebagai lembaga muslim alumni SMA 1 Jogja pernah tidak beraktivitas di SMA 1 selama kurun waktu tertentu yaitu pada kepengurusan tahun 1998-2001. Lalu ke mana aktivitasnya selama itu?
Menurut LPJ Kepengurusan KSAI Al Uswah 1998-2001, kepengurusan KSAI Al Uswah saat itu ringkas, bahkan terkesan terlalu ringkas. Terdiri dari tiga pengurus. Ketua umum yaitu Saleh eko Marwiyanto, Sekretaris Anisa Asmiranti dan Bendahara Titis Nurmasitoh.
Hanya itu personel definitif menjadi pengurus periode tersebut. Suatu struktur yang sebenarnya diharapkan fleksibel dalam perkembangannya, namun karena kurangnya komunikasi dan koordinasi, kepengurusan tersebut ibarat kepala dengan dua tangan namun tanpa kaki, tidak dapat berdiri, apalagi melangkah dengan baik untuk melaksanaan fungsi-fungsi organisasi yang sehat. Pertemuan rapat rutin pekanan juga jarang dilakukan.
BAZIS ingin Merdeka
Keberadaan BAZIS (Badan Amil Zakat, Infak dan Sodaqoh) KSAI Al Uswah sebenarnya sangat potensial. Ketika kepengurusan KSAI rapuh, namun BAZIS eksistensinya terlalu kuat, maka eksistensi BAZIS berkembang menjadi sebuah ultimatum kepada KSAI Al Uswah yang berisi bahwa apabila dalam jangka waktu tertentu KSAI tidak dapat memastikan keberlangsungan BAZIS maka dana yang ada dan keberadaan BAZIS sendiri akan ditentukan oleh pengurus yang sebelumnya. Yang dipertanyakan adalah jika BAZIS adalah sub di bawah KSAI, tentu bukan begitu cara yang ditempuh. Mekanisme organisasi-lah yang harus ditempuh. Jika BAZIS bukan bagian dari KSAI (independen), lalu kenapa bisa mengultimatum KSAI?
Alhamdulillah, KSAI mulai masuk SMA lagi…
KSAI masuk SMA 1 lagi, tapi bukan karena kegiatan KSAI-nya, namun karena kreativitas beberapa personel yang sebenarnya tanpa KSAI pun mereka bisa masuk ke SMA. Hal ini sungguh menggembirakan, karena hilangnya aksesbilitas KSAI ke SMA 1 berarti terjadi lost generation di masa depan. Dan kenyataan memang membuktikan seperti itu, lulusan SMA 1 sekitar tahun 1999-2001-an secara umum di kampus, masjid dan berbagai organisasi Islam lainnya (apapun itu) sulit dijumpai kiprahnya. Ada memang, namun segelintir, dan lainnya butuh waku yang cukup lama untuk mulai berkiprah lagi selepas dari SMA.
Sebuah Pelajaran
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS. Ali Imran : 140)
Jika kita lemah, tentu ada sebabnya. Dan Allah membuat skenario indah agar kita mendapatkan pelajaran. Semuanya sesuai dengan kadar kemampuan kita. Allah tidak membebani melebihi kadar kemampuan. Pak Saleh, sudah begitu berjuang untuk tetap membuat KSAI itu tetap ada di tengah gempuran masalah. Bahkan sampai sekarang beliau masih menjadi orang yang terdepan dalam kepeduliannya kepada KSAI Al Uswah. Beberapa kali adik-adiknya silaturrahmi dan disambut ramah di rumahnya. Justru dari beliaulah, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa didapat. Agar kita tidak mengalami hal sama, dan bisa selalu lebih baik lagi.
Kepengurusan inti haruslah lebih kuat daripada sub pengurus dibawahnya. Karena pengurus inti adalah pengambil komando jalannya organisasi. Mereka adalah orang yang seharusnya lebih berpengalaman, sudah teruji dan dihormati. Oleh karena itulah mengapa organisasi juga mengenal sistem jenjang karir organisasi. Pemimpin yang baik, memulainya dari bawah. Memimpin dari yang kecil, kemudian yang besar dan lebih besar lagi. Jika yang kecil saja tidak bisa memimpin, tentu yang lebih besar lagi akan lebih dipertanyakan lagi.
Sekarang
KSAI jauh lebih baik. Bahkan pihak sekolah begitu percaya dengan kiprah KSAI. Sampai-sampai berbagai bantuan diberikan jika dibutuhkan. Program mentoring didukung penuh oleh semua guru. Bahkan wajib! Di danai lagi. Itu semua karena proses memperoleh kepercayaan tersebut tidak seketika. Lama dan berkesinambungan. Selama hampir 17 Tahun kiprah KSAI, tentu sudah banyak yang dihasilkan, dan masih banyak juga yang menjadi PR.
Tantangan yang masih perlu mendapat perhatian serius adalah bagaimana memancarkan wajah Islam di SMA 1 (khususnya) dan masyarakat (umumnya) bahwa Islam ajarannya menyeluruh ke semua sisi kehidupan dan menjadi suatu hal yang menyejukkan (teduh). Karena sampai sekarang, masih saja (beberapa) alumni senior yang tidak begitu (belum) paham Islam, justru memukul rata persoalan dan memalukan Islam itu sendiri. Salah satunya, adalah bagaimana menjelaskan bahwa jilbab bukan hanya budaya, namun kewajiban seorang wanita (muslimah). Sehingga tidak usah malu, SMA 1 Jogja disebut sekolah lebih Muhammadiyah daripada sekolah Muhammadiyah itu sendiri karena di dalam dan luar sekolah, siswi-siswinya sangat banyak yang berjilbab, bahkan konsekuen dalam memakainya di luar sekolah. Untuk menjawab semua itu butuh waktu. Dan mari terus dijawab dengan prestasi
Zainuri Hanif, Ketua KSAI 2004-2005



