Oleh: Arif Darmawan (2007) – Pengelola KIP-PUKAT Dept. Pembinaan KSAI Al Uswah
Pada akhirnya, da’wah adalah tentang karnaval jiwa-jiwa
Romantika itu. Bukankah ‘Itu’ adalah sesuatu yang jauh, sakral, tak terjangkau, suci dan teramat agung? Itulah alasan mengapa Allah menggunakannya ketika menunjuk Al-Qur’an. Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi. (Al-Baqarah 2) -Begitu kira-kira kesimpulan Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah tentang Al-Qur’an yang terjaga di Lauh Al Mahfudz. Lalu pertanyaannya, apa yang terjadi misal, romantika itu kini hadir di tengah pertaubatan? Anis Matta menjawab: keagungan.
Maka ‘romantika itu’ lah yang kini hilang dari umat Islam. Kenangan romantisme peradaban. Padahal sholat kita sama dengan nabi, ngaji kita dengan bacaan yang sama, puasa kita sama, haji kita tak ada yang berubah. Ada -Ar-ruuh fii jasadil ummat- yang hilang. Ada ruh yang hilang. Kita sholat misalnya, seperti sebuah ritual rutin tanpa makna.
Itulah yang dirasakan Imam Al-Ghazali ketika pasukan salib pada akhirnya menyerang umat Islam. Umat Islam kehilangan ruh-nya. Mereka terjebak pada perpecahan madzab, terjebak pada kerancuan filsafat –karena inilah beliau menulis tahafut al falasifah-, terjebak pada praktik-praktik tahayul. Sehingga, pada akhirnya pendekatan fikih belum cukup menyatukan umat ini. Sebagian pasti akan berkata: “madzab fikih Antum sesat!”. Lalu ada yang berkata: “Akhi, da’wah kok lewat politik, itu sistem kafir Akh!!”. Kemudian ada yang emosi: “Dikit-dikit kok bid’ah, dikit-dikit dikafirkan!” Dan seterusnya. Pada akhirnya, kita akan mengambil tugas malaikat: “Eh, Antum dan kelompok Antum kayaknya masuk neraka deh!!? Surga sudah kami pesen karena ‘partai’ kami sama.” Mengerikan!!!
Saya membayangkan di zaman perang salib, ada tawuran antar madrasah. Menggelikan, namun ini serius. Antar madzab fikih saling serang. Saling membid’ahkan hanya kadang masalah sepele –masalah qunut atau tanpa qunut misalnya-. Inilah yang membuat Al-Ghazali prihatin. Inilah salah satu sebab mengapa Al-Ghazali kemudian menulis kitabnya yang terkenal itu “Ihya’ Ulumuddin”.
Ihya’ ulumuddin berarti menghidupkan ilmu-ilmu agama. Menghidupkan ‘cahaya’ agama. Karena;
“Kegelapan ternyata begitu rapuh. Ia tak sanggup menghadapi cahaya sekecil apapun. Saya suka kaidah ini; cara mengusir gelap bukan dengan menyuruhnya pergi, tapi hadirkanlah cahaya. Dan ungkapan paradoks itu; cinta adalah perangkap. Ketika dia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya”
Luar biasanya lagi, Allah menggunakan cahaya dalam bentuk tunggal an-nuur. Sedangkan kegelapan dengan bentuk jamak/plural: ad-dzulumat.. (Q.S 2:257). Kebenaran hanyalah satu, dan kegelapan selalu banyak. Efek dari hal seperti akan luar biasa; salah satunya tentang powerfull-nya konsep tauhid dalam Islam. –kita tidak sedang membahas ini.-
Cahaya memang powerfull, sehingga pendekatan cahaya atau ‘tasawuf’ atau ‘romantika itu’ atau ruh-nya Al-ghazali lagi-lagi menang. Kelak dari madrasahnya Al-Ghazali –Nidzamiyah- akan muncul Sholahuddin Al-Ayyubi yang akan memerangi pasukan Salib dengan gagahnya. Tanpa mengecilkan seorang Sholahuddin Al-Ayyubi –yang sebenanya seorang juru bicara-, beliau ‘hanyalah’ produk dari kerangka Ghazali. Sholahuddin adalah pewaris semangat, ruh, militansi dari apa-apa yang sudah dipersiapkan sang Al-Ghazali. Fantastis..
Untukmu para da’i;
Pada akhirnya, da’wah adalah karnaval panjang jiwa-jiwa. Al-Ghazali -dalam beberapa hal- pernah memulainya dan mewariskan kepada generasi setelahnya. Kenangan memang tidak tersimpan dalam peristiwa, tapi pada jiwa-jiwa yang bermain dalam ruang-ruang itu. Kita hadirkan kenangan ‘itu’ dalam romantisme peradaban saat ini.
Saya mencoba; untuk hadir kepada Antum semua, menyapa dan ‘agak kurang ajar’ berani bicara. Tulisan memang entitas yang hidup. Untuk Arifah, maaf sudah menunggu. Fahmi, tentang nasehat2nya. Mas Hasan -ilmu-ilmunya-.
Yang lain-lain ingin saya sebut dalam hati. (GM’s style)
2 syawal 1430 H
GM’s style (woot)
maksude? (cozy)
tapi perlu temen2 ketahui,
di buku Ihya’ Ulumuddin, terdapat 900 lebih hadits dhoif….
dan masih banyak buku2 Imam Ghazali yang menggunakan hadits dhoif…..
dan beliau sendiri mengakuinya, “…Aku memang tidak ahli dalam bidang ilmu hadits…”
Namun, kitab beliau sudah terlanjur banyak dan tersebar.
Tapi, bukan berarti, kita menyatakan bahwa beliau salah mutlak. Beliau ingin sekali menegakkan islam, namun ada beberapa hal yang beum beliau kuasai, namun beliau sudah menuangkannya dalam buku beliau.
Di akhir hayat beliau, menurut para muridnya, beliau dengan sungguh2 mengkaji ilmu-ilmu hadits. Dan Imam Ghazali wafat dalam keadaan memeluk kitab Shahih Bukhari.
Subhanallah…..
Semoga Allah merahmati beliau dan mengampuni dosa2 beliau.
Kita tetap harus menghargai Imam Ghazali, karena bliau ingin mendirikan menyebarkan islam. namun, bagaimana pun jg, terhadap kitab2 beliau, kita harus lebih selektif lagi.
Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ilmu sangat2 penting sebelum kita beramal.
*Saya dapat dari seorang ustadz, beliau mengajar di mu’alimin, dan beliau juga alumni Univ. Islam Madinah. Nama beliau juga cukup terkenal d jogja
@adrian: syukron… ini gaya-mu banget.
Ini hanya tentang penekanan tema kok. Namun “Berhatil-hatilah, -sebab- kalau kita membebaskan kritik sebagai prioritas, niscaya tidak ada satupun tokoh yang selamat, karena setiap imam pasti pernah dikritik dan banyak orang binasa lantaran mengkritik.” (kira-kira seperti inilah peringatan Al-Mawardi kepada orang2 yang mengkritik Imam Shafi’i)
Nah, kalau begini kan ada diskusi..
Lanjutkan, Istamiirrrrrrrrr!!!
(haha)
hehehe….
syukron juga….
pokoknya saling mengingatkan saja….
karena dan PASTI, setiap manusia pernah melakukan khilaf.
dan orang yang paling utama, kita terus memperbaiki diri kita, seburuk apapun masa lalu kita.
semoga Allah memberi rahmat dan mengampuni dosa para ulama’ terdahulu.
btw, maksud e, “gaya-mu banget” iki opo kang? (thinking)
@adrian: wah, kalau antum sampai ndak sadar gini bahaya lho.. ‘gaya’ seperti ini bagus, namun harus proporsional. (tambah mbingungi yo? (hassle) )
@adrian: wah, kalau antum sampai ndak sadar gini bahaya lho.(tambah mbingungi yo? (hassle) )
Mungkin @adrian hanya mau baca tulisan, literatur, buku2, yang oleh ustadnya dibilang “bagus, baik, dan benar” (thinking)
(ninja)
(lmao)
@mas darmo : mending nek di YM, ngomong langsung ae mas…to he point, saya ndak mau anda gantung seperti ini (koyo opo wae..(lmao))
@mas yohang : wah, iki wong sok tau tenan! (idiot)