KSAI Al Uswah

Retaknya Bumi Rekatnya Cinta

Oleh: Salim A. Fillah

Menatap rumahnya yang hancur, seorang pemuda menyandungkan lagu Samsons yang dulu dihafalnya untuk mengenang jejak air mata, Bila… yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu, kan ku jadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku…” Jika ini ekspresi kesabaran, apa yang bisa kita ungkapkan kecuali memuji pemahamannya tentang takdir dan mendekatkannya pada kefahaman “innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun..”

Inilah musibah. Agar kita belajar tentang garis takdir dari sudut terdekat. Sesungguhnya kematian yang kita lari darinya, pasti akan menemui kita pada waktu itu, tempat, dan frekuensi yang tepat. Saya baru bisa keluar setelah gempa besar itu reda, dan yang saya saksikan di luar adalah kepiluan. Bukankah tetangga di depan rumah saya itu sekeluarga berhasil lari dari rumahnya? Iya. Tetapi ke manakah lari dari takdir Allah, karena tembok rumah tetangga merekalah yang menjadi karunia timpaan bagi mereka? Dan rumah mereka, justrulah yang tetap berdiri utuh, tegak di antara puing-puing yang berserakan.

Inilah musibah. Agar kita bersabar langsung tentang kesabaran dari mata airnya. Jika memang ini peringatan Allah, mungkin tanpa musibah kita menjadi miskin rasa pinta. Selama ini mungkin tanpa sadar kita telah ber-istiqna, merasa kaya di hadapan Allah. Atau mungkin, hidup kita selama ini bergerak menggelimang ke sebuah jurang. Lalu gempa membuat kita menoleh, menghentikan laju ketersurukan itu. Seperti kenakalan seorang anak kecil yang membahayakan dirinya, lalu sang ayah menjewernya dengan penuh cinta. Maka sungguh Allah mencintai hamba-Nya.

Inilah musibah. Agar kita belajar tentang syukur disini, di labirin nurani yang terendam. Bukankah Sang Nabi menyabdakan, di antara tanda cinta Rabb kita adalah penyegeraan balasan segala dosa dengan rasa sakit, kepiluan, dan musibah-musibah hingga pun tertusuk duri di jalan bagi orang yang beriman? Iya. Allah balas semua itu di dunia, agar sang hamba menghadapNya dengan kebersihan, seperti kain putih yang tersuci dari noda. Ia telah dicuci dengan air, salju, dan embun cintaNya.

Inilah musibah. Agar kita menghayati tiap pernyataan, ikrar, dan sumpah yang menggetar di lisan kita. Seperti cenung saya setelah mengisi kajian tentang sabar, benar-benar Ia mempertanyakan kesabaran saya dengan mengambil kendaraan yang saya parkir di Masjid Mardliyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Begitulah, kata –pernyataan, ikrar, dan sumpah- memiliki episode penyambung. Masih ada ujian dan pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al Ankabuut 2)

Resep Tsabat Akhwat, Jangan Suka Pergi Malem-Malem!

No comments yet

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>