SMS, Merampas Hak dan Kewajiban Kita?

SMS, Merampas Hak dan Kewajiban Kita?

Ikhwan dan akhwat sekalian, artikel ini mungkin sudah pernah antum baca sebelumnya di SAKSI No.7 Th VII 5 Januari 2005, semoga bisa mengingatkan kembali dan bagi yang belum baca semoga menjadi masukan yang berarti.

Seorang murabbi yang baru saja membuka acara liqo tarbawinya, tiba-tiba menertima SMS dari mutarabbinya. Isinya singkat : “Afwan ustazd, saya tidak bisa hadir, sedang ada urusan lain”.

Kisah lain terjadi dibulan Ramadhan. Seorang aktivis da’wah kampus dikejutkan dari tidur malamnya. Pasalnya, jam 01.15 pagi masuk SMS. Isinya “bagus” : “Ass,ukhtifillah, jangan biarkan malam menenggelamkan dirimu dalam tidur yang panjang. Bangun dan sujudlah ke hadapan Rabbul-Izzati. Dari sahabat seperjuangan”. Tertera dalam file nama : Irfan-mas’ul da’wah fakultas. Sang akhwat semula tertegun. “Kok sempet-sempetnya kirim SMS jam segini?! gumamnya dalam hati. Namun tanpa sadar, jari-jemari tangannya yang lentik mulai memencet tombol HP-nya. Reply:”Jazakallah khair, jangan bosen ya ngingetin saya…”

Biar lebih lengkap saya tambahkan kisahnya. Seorang akh yang menjadi pengurus organisasi ditegur mas’ulnya karena tidak hadir rapat tanpa kabar. Mau tahu apa yang terjadi? Akh itu saat ditegur, balik bertanya :”Hah! memang kemarin ada rapat?’ Sang mas’ul tak kalah sengit:”Antum gimana…?! Kan undangannya sudah di SMS ke semua pengurus?” Mendengar itu, ia akhirnya menjelaskan :”Wah afwan, kemarin HP saya mati seharian…”

Inilah sebagian pemandangan baru yang mulai menjadi realita dalam kehidupan da’wah kita. Realitas yang tidak mungkin ditolak karena HP menjadi bagian dari perkembangan teknologi global.HP menjadi sarana komunikasi baru yang “genit, mudah, sangat pribadi walau relatif high-cost “. Bagi da’wah HP bukanlah barang haram. tergantung nawaytu nya saja. Ia adalah sarana untuk meraih ridho Allah SWT.

Seseorang yang menggunakan HP bukan hanya ukuran daya ekonominya meningkat. Tetapi-husnuzh-zhan nya ukuran daya da’wahnya juga meningkat.Sehingga da’wah akan semakin berkembang bila semakin banyak aktivitas da’wah yang menggunakan HP. Bahkan dalam pandangan tathwir tarbawi ,ia bisa menjadi wasilahbaru pengembangan tarbiyah. Misalnya dibuat sistem jaringan SMS kader, dimana setiap sepekan sekali mas’ul menyampaikan “Khatib Qiyadi” atau arahan kepemimpinannya. Bagi para murabbi, HP dengan spesifikasi yang canggih seperti PDA atau smart-phone bisa menjadi direktori materi tarbiyah dilengkapi dengan file AlQur’an dan kitab-kitab hadist.

Namun, saya ingin menyoroti dari sisi lain pada kasus pertama. HP dan SMSnya telah mereduksi pola serta adab hubungan antara mutarabbi-murabbi. SMS “menggoda” mutarabbi untuk memfait-accomply sang murabbi dengan hanya menerima pemberitahuan dan bukan permintaan ijin. BIla ini terus-menerus berlangsung, maka SMS berubah menjadi “Sarana Mematikan Sensitivitas”.

SMS menjadi sarana diseminasi penyebaran berita, apapun berita itu. Kita mengenal prinsip tabayyun dalam masalah ini. Tapi fasilitas forward to many sering mengiring kita untuk menebar berita daripada mentabayyun berita. Repotnya bila berita itu mengandung “syubhat” yang menjurus pada fitnah. Jika cara-cara seperti ini berlanjut, maka SMS menjelma sebagai “Sarana Menebar Sas-sus”. .

Nah yang menarik pada kasus ketiga. Adalah benar bahwa “Ad-Dien an-Nashihah”- agama adalah nasehat. salah satu tradisi kita adalah saling bertaushiyah untuk kemaslahatan da’wah. Saya percaya niat baik ikhwan mas-ul da’wah fakultas adalah ber-taushiyah kepada akhwat itu, walau dilakukan jam 01.15 pagi. Namun ketika HP merupakan sarana komunikasi yang sangat personal, nuansa perasaan dan imajinasi sangat berpeluang untuk ikut terlibat. saya menemukan sejumlah kasus dan ingin memberi warning bahwa SMS bisa merangsang kita untuk menjadikannya sebagai “Sarana Menuju Selingkuh”..

Pada kasus keempat, SMS memang sangat membantu kecepatan dan efisiensi kerja manajemen da’wah. Undangan rapat bila dikirim lewat SMS dengan pola grouping , akan sangat cepat terkirim kurang dari 5 menit. Kita tidak perlu cetak dan foto copy surat undangan berlembar-lembar. jadi prosesnya cepat dan efisien. Tapi pada sisi yang lain, komunikasi organisasi menjadi mekanistik. Jangan-jangan nanti ada seorang mas’ul menegur stafnya melalui SMS.

Yang perlu diingat, landasan paling mendasar dalam hubungan organisasi dan hubungan antar personal pada da’wah adalah ‘alaqah qalbiyah-ruhiyah’ .Organisasi da’wah kita bukanlah lembaga bisnis atau birokrasi pemerintahan. Soliditas organisasi da’wah sangat ditentukan oleh tingkat hubungan hati dan ruhiyah antara qiyadah dan junudnya. dan ini tidak boleh disabotase oleh SMS, sehingga bisa menjadi “Sarana Mengeringkan Suasana”. Kehidupan hubungan organisasi atau manajemen da’wah menjadi kering, lemah dalam sentuhan manusiawi. Dan bukankah dalam suasana Iedul Fitri, SMS telah merampas hak dan kewajiban kita untuk saling silaturahim secara langsung?

Ikhwan dan akhwat sekalian, saya bukan sedang mengajak kita mem-blokir sarana SMS.Tapi sekedar mengingatkan bahwa kehidupan da’wah dan tarbiyah kita bisa mudah dan juga bisa rusak oleh satu sarana yang bernama SMS. Wallaahu A’lam bis-showab.

Ust. Mahfuz Sidik

Similar Posts:

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: +2 (from 2 votes)
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

About the Author

YoHang 07 Departemen Pembinaan KSAI Al Uswah